Dramatis, Aksi Polisi Evakuasi Curanmor di Kota Bima

KoranNTB.com – Warga di Kelurahan Penatoi, Kecamatan Mpunda, Kota Bima, belakang ini resah akibat maraknya aksi Curanmor atau pencurian kendaraan bermotor di wilayah mereka.

Keresahan tersebut berbuntut pada kemarahan warga saat memergoki dua pemuda yang diduga sebagai pelaku Curanmor di RT.01, RW.01 Kelurahan Penatoi, Senin sore, 10 Juni 2019.

Kedua pelaku diduga hendak melakukan aksi Curanmor di salah satu rumah warga. Kemudian pemilik rumah menyadari motornya yang diparkir hendak dicuri, dia kemudian meneriaki maling pada pelaku. Para tetangga mendengar dan mengejar pelaku.

“Kemudian pelaku berusaha melarikan diri, di mana salah satu dari pelaku masih di atas sepeda motor miliknya, selanjutnya para pelaku dengan mengendarai sepeda motor berusaha melarikan diri ke arah selatan namun tidak berhasil,” ujar Kabid Humas Polda NTB AKBP Purnama.

Kedua pelaku yang diamuk massa kemudian dilarikan Bhabinkamtibmas dan Babinsa. Para pelaku diamankan di rumah seorang warga. Sementara di luar rumah ada ratusan warga yang kian bertambah ingin menghakimi pelaku. Warga marah karena sering terjadi Curanmor di kampung mereka.

Beruntung pukul 17.10 Wita Polres Bima Kota dan gabungan personel Polsek Rasanae Barat tiba di lokasi. Polisi berusaha mengevakuasi pelaku dengan membubarkan massa. Namun massa tetap bertahan.

Massa tetap berkumpul di depan rumah para pelaku dievakuasi. Polisi kesulitan mengontrol massa agar main hakim tidak terjadi. Beruntung satu jam kemudian pelaku dievakuasi dengan dramatis, meksipun massa hendak mencoba menghakiminya.

Tidak puas menghakimi pelaku, massa melampiaskan kekesalannya dengan membakar motor yang digunakan pelaku menjalankan aksinya.

Massa awalnya melempari motor pelaku. Kemudian, motor tersebut dibawa di sebelah barat jembatan kemudian dibakar.

Polisi berusaha menenangkan massa agar tidak main hakim sendiri. Api berhasil dipadamkan dan motor tersebut diamankan.

Sementara dua pelaku yang diamankan di Polres Kota Bima masing-masing berinisial FR (15) seorang pelajar dan N alias Joris, bekerja bertani. (red)