Orang Gila dan Corona

KORANNTB.com – Ada banyak pertanyaan muncul mengapa orang gila tidak terpapar Coronavirus COVID-19. Pertanyaan itu didasari belum ada kasus yang terkonfirmasi penderita adalah orang gila.

Namun, apakah dapat dipastikan orang gila bebas Corona? Tentu saja tidak. Memang ada alasan yang menyebut orang gila kuat terhadap penyakit, yaitu karena imunitas mereka telah terbangun akibat terbiasa dengan kondisi sakit. Ini seperti cara kerja vaksin dalam tubuh.

Kondisi orang gila yang terbiasa hidup kotor membuatnya “berdamai” dari penyakit dengan imunitas yang cepat merespon segala penyakit yang masuk.

Dikutip dari Mojok.co dalam laporan National Geographic yang pernah ditulis Judith Newman pada Mei 2006 dengan judul “Epidemi Modern Bernama Alergi”, menyebut masyarakat yang terlalu higenis dan menjaga kebersihan rentan tertular penyakit dibandingkan masyarakat yang terbiasa hidup kotor. Karena masyarakat yang biasa dengan kotor akrab bertemu virus dan bakteri, sehingga tubuh mereka terlatih menghadapi itu.

Masyarakat yang terlalu menjaga higenis membuat tubuh mereka tak terlatih dengan ancaman bakteri maupun virus luar. Jadi berani kotor itu baik memang ada benarnya.

Kemudian, orang gila juga tidak sadar jika mengalami sakit. Karena kondisi sakit juga berkaitan dengan respon otak terhadap tubuh yang sakit. Biasanya ketika sakit telah sangat parah, baru disadari dengan respon tubuh, sehingga wajar kita mendengar banyak gelandangan maupun orang gila yang meninggal di jalanan. Berbeda dengan orang normal di mana otak mereka cepat merespon kondisi tubuh. Bahkan justru pikiran mereka yang menciptakan sebuah penyakit, misalnya gangguan psikosomatis akibat stres dan cemas, atau Anxiety yang berhubungan dengan penyakit Gerd.

Kemudian, apakah orang gila bisa terkena Corona? Tentu saja bisa, semua manusia tidak terkecuali dapat terkena Corona. Namun, tentu orang gila saat ini dapat dikatakan belum ada kasus yang mengalami Corona, karena memang Corona adalah virus pandemi yang tertular melalui imported case dan local transmission.

Anda pernah dengar orang gila ke Wuhan? Atau ke daerah terpapar Corona? Jika tidak, mengapa Anda heran jika orang gila tidak terpapar Corona?

Atau jika virus tersebut dibawa oleh orang kelas menengah atas yang hobi ke luar negeri, apakah kelas menengah atas itu mau menyentuh orang gila? Bukankah kita terbiasa tidak membangun interaksi fisik dengan orang gila karena alasan takut dan jorok?

Sebelum familiar istilah physical distance, kita telah terlebih dahulu menjadi jarak dengan orang gila. Jadi jangan heran jika orang gila belum terpapar Corona. (red)

Foto: shutterstock

Link Banner
Link Banner