Perang Teluk I: Ketika Irak Menginvasi Iran

KORANNTB.com – Perang Teluk I berlangsung sejak 1980 hingga 1988. Perang tersebut melibatkan kekuatan militer Irak melawan Iran.

Perang diawali dengan munculnya konflik etnis antara Irak dan Persia Iran. Konflik mahzab Sunni di Irak dan Syiah di Iran memperkuat potensi konflik.

Faktor lainnya, seperti revolusi Islam di Iran yang membuat Sadam Husein khawatir itu akan berisiko terhadap stabilitas keamanan Irak. Sejarah konflik dinasti Umayyah dan Abbasiyah, hingga sengketa perbatasan ikut menjadi penyumbang pecahnya perang.

Perang bermula saat pasukan Baghdad melakukan invasi ke wilayah Iran pada 22 September 1980. Ayatullah Khomeini melakukan berlawanan dengan meluncurkan ratusan ribu tentara.

Awalnya dalam perang tersebut, Irak berhasil mendominasi. Namun berkat kesiapan tentara Iran, mereka dapat membalik keadaan.

Irak memperoleh dukungan dari Arab Saudi, Amerika Serikat, Kuwait hingga Eropa. Sementara Iran juga tidak sendiri. Mereka memperoleh dukungan Suriah, Libya dan Yaman Selatan.

Invasi Irak ke Khuzestan, Iran membuat kilang minyak hancur dan kerugian besar di pihak Iran. Namun Khomeini terus melancarkan serangan defensif yang memukul mundur tentara Baghdad.

Perang terus berlanjut. Pada 1982 masing-masing pihak mengalami kebuntuan dalam setiap serangan. Serangan demi serangan mereka digagalkan pihak lawan.

Perang berakhir pada 1988 saat PBB mengeluarkan resolusi berisi tuntutan gencatan senjata bagi kedua belah pihak. Hingga pada 17 Juli 1988, kedua negara tersebut menyetujui resolusi PBB dengan perdamaian.

Perang tersebut menyebabkan kerugian besar bagi kedua negara. Irak pun mengalami masa sulit pasca perang.

Nama Perang Teluk I baru dikenal sejak munculnya Perang Teluk II dan Perang Teluk III. Perang Teluk I biasanya disebut Perang Irak-Iran atau dikenal juga Pertahanan Suci. Yang paling umum disebut Perang Teluk Persia.

Iran tidak hanya dibantu dengan Suriah, Libya dan Yaman Selatan, namun di belakang layar ada keterlibatan China dan Korea Utara. Sementara Irak, selain kekuatan Arab Saudi dan Amerika Serikat, ada juga Uni Soviet dan Prancis.

Dalam perang tersebut, perkiraan jumlah korban di pihak Iran baik militer dan sipil sebanyak 500 ribu hingga 750 ribu terbunuh atau terluka. Sementara di pihak Irak sebanyak 375 ribu hingga 500 ribu terbunuh atau terluka.

Dalam perang tersebut memakan banyak korban di pihak Iran. Keterlibatan Amerika Serikat diduga membantu Irak menggunakan senjata kimia untuk menyerang Iran. (red)