Koalisi PDIP-PKS, Siapa Untung di Pilkada Kota Mataram?

KORANNTB.com – Koalisi PDIP dan PKS di Pilkada Kota Mataram yang konon mengusung paket Selly Andayani – TGH Abdul Manan dinilai baru sebatas tebar pesona. Belum riil dan pasti.

Mi6 memprediksi kemungkinan langkah dua partai ini berubah mendekati masa pendaftaran calon kelak masih terbuka. Untuk itu tak ada salahnya PDIP jajaki Parpol alternatif untuk memperkuat karakter politik Selly Andayani.

Lembaga Kajian Sosial Politik M16 menilai koalisi PDIP-PKS di Pilkada Kota Mataram akan menjadi warna baru peta politik. Di mana dua Parpol besar dengan “mahzab” berbeda bisa bersatu mendukung pasangan yang sama.

“Kalau ini terjadi sangat bagus. Tapi masalahnya sampai sekarang kan belum jelas. PDIP sudah oke, tapi PKS kan belum ada rekomendasi. Pertanyaan kemudian Siapa yang diuntungkan dengan situasi ketidak-jelasan ini?” Kata Direktur M16, Bambang Mei Finarwanto, Rabu, 25 Maret 2020 di Mataram.

Pria yang akrab disapa Didu ini memaparkan, koalisi PDIP-PKS di sejumlah Pilkada di NTB sudah sempat mencuat dan hangat di media massa. Sejumlah pertemuan silaturahmi Ketua DPD PDIP NTB H Rachmat Hidayat dan Gubernur NTB yang juga petinggi PKS, juga  semakin memperkuat hal itu.

Hanya saja, hingga saat ini keseriusan yang mengikat nampaknya hanya dilakukan PDIP yang sudah menerbitkan surat rekomendasi. Sementara PKS, belum jelas.

“Dalam posisi saat ini PKS harus gentle. Terbitkan juga rekomendasi, jangan abu-abu dan membuat ambigu,” katanya.

Didu mengatakan, PDIP juga sudah saatnya melakukan pendekatan dan membuka ruang politik untuk partai lain di Pilkada Kota Mataram. Hal ini untuk menjaga kemungkinan bila akhirnya nanti koalisi PDIP dan PKS tak terealisasi.

Parpol Kawan Sekutu

“PDIP perlu menggalang dukungan Politik menambah  parpol kawan sekutu sebagai upaya memperkuat citra sekaligus melebarkan basis konstituen untuk antisipasi dini,” ujarnya.

Ia menambahkan seandainya koalisi PDIP dan PKS final sebagai Paslon, maka keberadaan parpol lain tetap penting dan strategis  menjadi perekat sekaligus menambah dukungan agar makin aware di mata publik.

Direktur Mi6 mengulas sepintas koalisi PKS dan PDIP dari sisi show of politik sebagai pilihan taktik yang cerdik dari sisi hubungan simbiosis mutualisme. Meskipun demikian apakah persekutuan politik ini kemudian dipahami tujuan strategisnya oleh pemilih dan loyalis votternya di Kota Mataram? Mengingat kedua partai ini memiliki basis pemilih yang berbeda karakter secara politik.

“Jika tidak di-manage dan di-maintance dengan baik, tidak tertutup akan menjadi blunder bahkan mudah diinsureksi kepentingan politik lain,” katanya.

Terakhir dia mengatakan letak urgensinya koalisi PDIP dan PKS perlu menambah parpol sekutu politik selain untuk menutup celah kepentingan politik lain memainkan sentimen atas nama perbedaan mashab. Keberadaan parpol lain ini tentu akan menjadi buffer atau peredam sekaligus vote getter mendulang suara pemilih lainnya. (red)