Pengusaha Keluhkan Indikasi Penipuan Oknum Pokmas di Lombok Utara

KORANNTB.com – Rehabilitasi dan Rekonstruksi pasca gempa bumi yang berjalan lamban di Nusa Tenggara Barat (NTB) diduga mulai dimanfaatkan oleh sejumlah oknum untuk bermain dan mengambil keuntungan dalam pembangunan Rumah Tahan Gempa (RTG).

Dugaan penipuan dengan modus mengatasnamakan Kelompok Masyarakat (Pokmas), terjadi di Lombok Utara.

Seorang pengusaha, DY Novandi mengaku kesal dengan ulah oknum yang mengaku sebagai Ketua Pokmas di Desa Medana, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara.

“Kami sebagai pengusaha berniat baik untuk membantu percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi, terutama dalam hal pembangunan RTG. Tapi, faktanya banyak malah dipersulit dengan ulah oknum seperti ini,” keluh DY Novandi kepada wartawan, Senin, 11 Agustus 2019 di Mataram.

Novandi mengungkapkan, oknum yang mengaku sebagai Ketua Pokmas tersebut bernama Asmadi, warga Desa Medana, Lombok Utara.

Ia menjelaskan, awalnya bertemu dengan Asmadi karena dikenalkan oleh Andre, seorang warga Kayangan, Lombok Utara.

Dalam pertemuan itu, Asmadi mengaku sebagai Ketua Pokmas di Desa Medana.

“Andre bilang sudah kerjakan tujuh unit RTG di Medana dan masih ada sisa sekitar 45 RTG. Itu yang menurut Asmadi akan diberikan untuk kami kerjakan,” katanya.

Namun pengerjaan RTG bisa dilakukan setelah puing-puing sisa bangunan di lokasi dbersihkan terlebih dahulu.

Menurut Novandi, dalam pertemuan tersebut Asmadi langsung meminta dana tanda jadi sebesar Rp5 juta.

“Dia (Asmadi) minta dana tanda jadi sebesar Rp5 juta. Tapi karena saat itu sudah malam, saya transfer dana itu esoknya ke rekening Bank Mandiri atas nama Asmadi. Dia bilang Pokmas ini nggak akan ke mana-mana,” katanya.

Usai mentransfer dana, sepekan kemudian Novandi mencoba menanyakan kepada Asmadi kapan bisa menemui warga korban gempa di Desa Medana untuk memastikan pembangunan RTG.

“Tapi, saat itu Asmadi beralasan sedang ada kedukaan di mana ada warga yang meninggal dunia di Desa Medana. Sehingga Asmadi meminta waktu seminggu ke depan,” katanya.

Sayangnya, hingga berhari-hari berlalu, Asmadi terkesan lepas tanggung jawab. Sulit dihubungi dan ditemui dengan beragam alasan.

Yang menyakitkan, ketika ditanyakan dana Rp5 juta tersebut Asmadi justru mengaku itu pinjaman dari Andre.

“Dia jawab WA bahwa dana Rp5 juta itu, dikasihkan pada Andre Rp2 juta dan dipakai sendiri Rp3 juta. Ini kan tidak masuk akal, masak dia pinjam uang dari Andre dan menyerahkan lagi ke Andre,” tukas Novandi.

Novandi menekankan, pihaknya sangat kecewa dan merasa tertipu karena ternyata  setelah dana ditransfer, Asmadi justru berkelit dengan beragam alasan.

Bukannya dapat mengerjakan RTG, uang senilai Rp5 juta yang ditransfer Novandi ke rekening bank Asmadi, justru tak jelas kemana juntrungannya.

Sebagai pengusaha yang berniat baik membangunkan RTG untuk korban gempa, Novandi sangat menyayangkan ulah oknum seperti Asmadi ini.

Ia menduga, modus seperti ini dimanfaatkan untuk mendapatkan sejumlah uang yang merugikan orang lain.

Novandi menegaskan, harus ada langkah kongkrit dari Pemda, BPBD, dan juga aparat penegak hukum untuk menindak ulah oknum seperti ini.

“Kami merasa ini sebuah modus yang memanfaatkan kondisi rehab rekons di NTB. Ini yang harus ditindak, agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan sesuai target,” tegasnya.

Novandi menegaskan, pihaknya menunggu itikad baik dari oknum Asmadi untuk masalah ini.

Jika tidak, pihaknya akan menempuh jalur hukum dan melaporkan kasus ini ke kepolisian.

“Kami ada bukti, foto dan juga nota transfer yang ada. Kami akan menempuh upaya hukum kalau tidak ada itikad baik dari Asmadi, agar tidak ada lagi korban-korban berikutnya,” tegasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Asmadi mengaku menerima transfer dana Rp5 juta dan masuk ke rekeningnya.

Namun, menurutnya dana itu dipinjamkan dari Andre, dan tak menyangka bahwa dana itu dari pengusaha DY Novian.

“Saya memang terima dana itu, tapi pinjaman dari Andre, untuk keperluan keluarga. Saya tidak tahu kalau itu dari pengusaha,” kata Asmadi, saat dihubungi dari Mataram.

Ia menyatakan akan segera mengembalikan dana tersebut pada Novandi.

“Kalau sudah ada uang pasti saya kembalikan,” katanya.

Meski mengakui sebagai Pokmas di Desa Medana, Asmadi menampik menjanjikan RTG kepada Novandi.

“Saya memang Pokmas Desa Medana, tapi tidak menjanjikan sesuatu,” kilahnya.

Hal ini juga yang disesalkan DY Novandi. Asmadi dinilai ingin lari dari tanggungjawab.

Apalagi, dana Rp5 juta itu dibagikan juga pada Andre.

“Tidak masuk akal orang pinjam uang, kemudian diserahkan sebagiannya ke si peminjam. Ini kan alibi saja,” tegas Novandi.

Sementara itu, Pemerhati Sosial NTB Aminuddin SH menegaskan, ulah oknum yang menghambat percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana di NTB tak bisa dibiarkan begitu saja.

“Jangan sampai ada yang menari di atas penderitaan korban gempa. Apalagi ulah oknum dengan modus yang diduga penipuan seperti ini,” tegas Aminuddin.

Apalagi, tukas Amin, saat ini masih sangat banyak korban gempa bumi NTB yang tinggal di hunian sementara karena belum menerima RTG.

Amin menandaskan, pihak Pemda, BPBD dan aparat penegak hukum harus lebih peka dan meminimalisir kejadian seperti ini.

“Kalau ditemukan ada unsur penipuan, apalagi berbau korupsi, harus tindak tegas. Proses hukum harus berjalan agar rehabilitasi dan rekonstruksi ini berjalan sesuai prosedur,” ujarnya.

Amin menduga, banyak masalah serupa terjadi dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa NTB ini.

“Kasus seperti ini banyak, hanya saja belum ketahuan dan belum terungkap,” katanya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi Kepala BPBD Lombok Utara, H Muhadi belum bisa berkomentar banyak.

Ia mengaku sedang menghadiri rapat paripurna pelantikan anggota DPRD Lombok Utara.

“Saya masih menghadiri pelantikan DPRD Lombok Utara,” ucapnya. (red)

Caption : Pemerhati Sosial NTB, Aminuddin SH (Kiri) dan Asmadi (Kanan). (Kolase/Istimewa)